Sosok angin yang menghantam otakku dari lamunan. Terasa sejuk meski hanya dalam mimpi, mimpi didepan mata. Kelas yang amat gaduh ku acuhkan kala ku memeluk dalam bayangan sosok yang ku kagumi. Terasa memeluk matanya yang bersinar laksana bintang tertempel menuruti. Hmmm

aaahahahah… awas kau yaa. Brrrrrukkk tersungkur dengan rasa jengkelnya. Meledak sudah bayangan indahku dan sesegera mungkin tersadar akan alam bawah sadarku.

Terasa sakit tetap ia bangkit lagi, Ariii kembaliin tasku.. suara terengah-engah. Teriakan bangku seberang pun bergema, ayoo ke sinikalo berani mengambil tasku. dengan meledek seakan-akan kepuasan telah ia raih.

Emangnya kamu nggak tau? Dia itu looh biang kerusuhan dari hubungan kita.. tekanan suara yang bersumber dari belakang itu seakan-akan memaksa pikiranku untuk ingin tahu.

eiiiiihhhh. Itu maskaraku pakai punya nya Ayu aja sana!

nggak ah, males maskaranya ga mahal!.

Dengan muka kesal, yang hampir setiap hari bangku samping perdebatkan. Meski begitu kuping ku tak akan terasa asing akan suara-suara yang terdengar

Entah mengapa aku bosan pemandangan dibelakang, Pandangankupun beralih kedepan dengan tangan kuletakkan di atas meja diiringi kepala lesu ku. Terlihat ahkam yang menutup tirai jendela untuk menutup silaunya mentari beranjak siang. Momen ini adalah saatnya ia beraksi dengan spidol di kulit teman sebangkunya yang selalu mendengkur saat jam kosong seperti ini. Pokemon pun menempel di tangan kiri sohib yg tertidur pulas, seakan menjadi kebanggaan, dipamerkanya karya itu pada bangku belakang dan sampinya. Meski begitu aku masih terfokus dengan saku belakang celana yang robek.

Beranjak dari bangku, Mau kemana ni? teriak Lia dari pojok sedang ngerumpi.

Ke toilet, ikut?,

Nggak lah, males.

Di depan pintu terlihat Sandra memberi sinyal untuk kembali ke kelas. Segera kupercepat langkah untuk mengambil air di kran dan membasuh muka untuk kembali ke kelas.

Sekejap bangku yang tadinya berserakan tersulap hilang dari pandangan dan tinggal kelas yang amat rapi. Di depan kelas persis aku bergumam

, wisshhh.ajib-ajib…keren.

e.e.e.eh,,,cepetan dudu, nenek kiler mo masuk kelas loh. Dorong Lia. Tak heran lagi kalau jadwal guru yang paling kiler membuat tingkah teman-temanku serba aneh bin ajaib. Entah mengapa terkadang aku pun tak luput dari tingkah mereka. Hari rabu membuat ku kelelahan karena jadwal piket.

Rrio maju, sebutkan ciri-ciri pantun pinta bu Indar, nenek kiler adalah sebutan dikelasku bagi guru perempuan yang amat sadis dalam mengajar.

Entah mengapa aku selalu bahagia jika melihat Rio. Hidung mancung nya ala pemain Holywood Syahrukhan, serta matanya yang sipit kolaborasi Cina dan Jawa. Dia sangat pandai memainkan musik, serta bahasa Inggris yang lumayan lancar. Paling membuat aku tertarik adalah bela dirinya yang sudah lumayan tingkat tinggi. Sejak kelas 2 aku sudah mulai tertarik pada nya. Berawal dari satu tim jadwal piket.

Kembali ke tempat semula dan lanjutkan pelajaranya. Pinta bu Indar

Hanya satu minggu waktu kami untuk mempersiapkan ujian akhir semester, entahkurang sadar atau tidak punya rasa terbebani banyak kelas IPA 3 yang belum menguasai materi, termasuk aku. Kebanyakan temanku hanya belajar di waktu sekolah saat jam pelajaran dan malam saat menjelang tidur. Seakan tidak memikirkan ujian yang sudah di depan mata.

Pulang aja yokalo ga kuat pinta Burhan teman satu bangkunya Rio. Tak lama kemudian mereka pun bergegas pulang setelah izin dengan guru. Rio memang akhir-akhir ini terlihat lemas.

Hingga tiba waktu ujian akhir semester kami pun tidak melihat Rio di kelas lagi. Hingga kami mendengar rumor dari kelas sebelah,

apa virus?, yang jelas dong kalo ngomongperasaan Rio ga suka kelayapan apalagi nakal sama kamu aku pun syok mendengar dari Imam tetangga RRio. Setelah Imam menjelaskan semuanya kepada aku dan Lia pun mengerti bagaimana Rio sampai terkena virus kencing tikus.

Langkah gemetar aku dan Lia turut serta mempercepat langkah dari koridor menuju kelas untuk mengumumkan kejadian yang dialami Rio. Dan setelah mengumumkan teman satu kelas akupun berembuk dengan ketua kelas untuk mempersiapkan menjenguk Rio di rumah sakit tempat ia di opname.

Eh sory ya temen-temen, aku harus pulang lebih awal nih..dah ditunggu ibu ku. Izinku pada yang lain setelah jam terakhir.

Kamu beneran gak mau ikut ni?, ini Rio loh yang kita jenguk. Ya hanya memastikan kalau kamu sudah rela ga pernah liat dia lagi,,,, goda Lia.

hust. Ga boleh kaya gitu Liaga boleh ngomong kaya gitu. Omonganmu bisa jadi doa loh. Emang sih aku pengen banget tapi ibu dan nunggu li aku meminta pengertianya Lia. Semuanya berangkat jenguk dan aku pulang kerumah.

2 bulan setengah ujian akan berlangsung, dan Rio sudah hampir dua bulan masih tidak kunjung sembuh di tambah lagi tidak bisa masuk sekolah. Seusai pulang sekolah aku dan Lia berniat menjenguknya lagi sekaligus pertama kalinya aku ingin melihat keadaan Rio. Waktu itu hujan sangat lebat hingga aku dan Lia memutuskan menunggu hujan reda. Meski rintik hujan menyapu wajah kami, tekad dan niat kami tulus ingin menjenguk.

stop, stop, stop Lia.. mampir dulu di toko buah. Masa kita ke sana ga bawa apa-apa sih. teriak ku karena suara yang tidak mendukung.

oke-oke,,untung kamu ga lupa Ni. Soalnya kata ibuku, kalau jenguk orang sakit setidaknya bawa buah tangan gitu jawab Lia.

Sesampainya dirumah Rio, aku dan Lia dipersilahkan duduk diruang tamu tak lama kemudian Rio keluar dengan dibantu ibunya. Dengan keadaan lemas ia paksakan untuk menemuiku.

bagaimana yo?, keadaanmu? tanya Lia sembari meletakkan buah dimeja.

Kalau ga kuat bangun tak usah dipaksa. dengan gugup aku peringatkan dia.

Insya Allah aku kuat Nia, rasanya aku ingin memeberikan bahuku untuk ia bersandar, hingga tak kuasa iluku hampir menetes melihat kondisinya yang amat lemas.

Meski tidak mengungkapkan perasaan ku, aku sanagt bahagia masih bisa bertemu dengan dia. Kami membicarakan banyak hal Hingga pukul lima sore memperingatkan ku akan rumah dan ibuku. Aku dan Lia pun izin pulang meski hatiku ingin menemaninya sampai ia sembuh, tapi itu tidak mungkin. Hanya panjatan doa-doakulah yang akan membawa dia kembali sembuh.

Detik-detik berlalu hingga menju menit bahkan jam. Hari-hariku selalu memikirnya. Hingga tiba waktu try out hari kedua. Dingin menyelimuti kulitku. benang seragam yang sudah mulai menipis ku lapisi dengan sweeter brown kesukaanku.

Assalamualaikum bu pamitku kepada ibu yang masih di dapur.

waalaikumsalam nia.hati-hati dijalan, doa dulu sebelum mengerjakan. Nasehat ibu dengarkan lirih. Dan aku pu berangkat .

Entah mengapa meski banyak yang sudah hadir di depan kelas retasa masih sepi. Ku kuatkan langkahku menerjang dinginya udara sehabis hujan tadi subuh, setelah menaruh sweeter brown ku di motor ku. Sampai disamping koridor kulihat teman-teman sekelasku yang menahan tangis. Jantungku tersentak. Tak kuasa lagi aku berdiri, aku pun memilih duduk bersama mereka.

Semua diam. Lia menariku dan berkata Rio, nia,,,. Aku bingung

Sambil menyeka air mata Lia, jantungku tak karuan berfikir yang tidak-tidak. Riosudah ga ada! suara tangisan semakin meledak dimana-mana serta kesunyian hatiku mulai terasa.

Rio? tanyaku dengan terbata dan menahan nafas. Semua menangis, sedang aku entah mengapa aku hanya bisa melamun seakan tak sadarkan diri.

Nia..Nia teriak Lia sambil mengoyak tubuhku yang semakin tak terasa.

Apa kepala sekolah mengizinkan kita Takziah dulu Lia?, tanpa rasa aku terus bertanya.

Anak-anak bilang, ga boleh nikita hanya boleh kalau sudah selesai mengerjakan..tapi aku ga kuat rasanya. Nia.kamu yang kuat ya. Kenapa kamu ga nangis? Lia hampir sesenggukan terbata-bata.

Aku masih kuat LiaAllah yang membuat ku kuat. Karena Allah lah yang mengambil nyawa Rio. Kamu rasain aja Liarasanya Rio masih ada di sini bersama kita

Kamu sadar dong NiaRio sudah ga ada. Dia sudah matikamu jangan aneh gini dongkita semua tak bisa fokus dengan Try out!

Kita balik aj yuk Li, kerumah Rio aja. Ini bakalan teraakhir kalinya kita melihat Rio Liaaku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, mulai berlinang air mataku.

Aku udah dipesenin sama guru BK Niaaku tidak akan bolos. Kita saja..sama kebijakan kepala sekolah.

Akhirnya mau tidak mau inilah yang terbaik. mungkin Dengan patuh kepada guru membuat Rio bangga kepada ku, gumamku dalam hati penuh isak tangis tak tahan menahan kekecewaan.

Selama mengerjakan kuperhatikan satu persatu, sesekali ada cela untuk biicara. Nia..aku kepikiran Rio terus..tidak bisa fokus keluh Ferik belakang bangkuku.

Tenang Ferkita cepet selesaikan tugas kita. Biar secepat mungkin kita bisa langsung taziah. menahan duka, seakan ku tetap kuat.

Setelah usai mengejakan, sesuai kesepakatan satu kelas kita pun berkumpul untuk berbarengan berangkatnya. Tidak hanya siswa IPA 3 saja namun semua guru pun ikut serta. Sesampai disana seperti adat daerah yakni beberapa sambutan dan aca inti yakni tahlil mendoakan yang meninggalkan dan dan yang ditinggalakan. Seusai acara kami pun pulang. Namun aku dan Lia memutuskan untuk meliihat makamnya Rio.

Tertancap sudah bunga kamboja, pahatan kayu terukirkan nama Muhammad Rio Ferrianto, ditancapkan dalam-dalam di dalam tanah. Terkubur sudah semua rasa di dunia. Taburan bunga bersifat sementara memenuhi basahnya tanah kematian. Empat mahkota kamboja mewakili kesakralan upacara pembumian. Tiada duka maupun lara lagi didunia nan fana ini. semua kisah tertinggal begitu saja oleh takdir yang kuasa. Hingga aku terbangun dari bumi basah yang mengkubur sisa kenangan masa lalu, dan bangkit menuju masa depan yang telah menanti. Ku ikhlaskan semua rasa yang telah kuberi, hingga akhir mati tanpa ia tahu..

Niaudah hampir gelap nih. bisik Lia setengah jongkok disampingku.

Aku baru membuka mata karena terkejut dengan bisiskan Lia, tanpa suara aku pun langsung berdiri d an segera mengikuti langkah Lia untuk bergegas pulang.