KSMW Gelar Diskusi Benturan PKI dan NU

0
136
Recalling History Benturan NU dan PKI Politik dan Ideologi diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) di lantai 1 Gedung O Fakultas Ushuludin dan Humaniora, Jumat malam, (30/09).
Recalling History Benturan NU dan PKI Politik dan Ideologi diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) di lantai 1 Gedung O Fakultas Ushuludin dan Humaniora, Jumat malam, (30/09).
Recalling History Benturan NU dan PKI Politik dan Ideologi diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) di lantai 1 Gedung O Fakultas Ushuludin dan Humaniora, Jumat malam, (30/09). (dok. Adib)

Diskusi publik bertemakan Recalling History Benturan NU dan PKI Politik dan Ideologi diselenggarakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) di lantai 1 Gedung O Fakultas Ushuludin dan Humaniora, Jumat malam, (30/09).

PKI dan NU memiliki visi yang sama dalam membentuk negara yang bersih dari imperialism dan kolonialisme

“Sebenarnya mempunya satu visi, yaitu sama-sama anti terhadap kolonialisme dan imperialisme. Kalau melihat terhadap tragedi Madiun tahun 1948 itu karena, tidak se-ideologinya orang-orang PKI terhadap kaum agamis jawa. Ideologi PKI pada dasarnya adalah membatasi atas penguanaan lahan, sementara pada saat itu banyak tuan-tuan tanah yang malah berasal dari kaum agamis (Jawa),” terang Tedi Kholiludin selaku pembicara diskusi pada malam itu.

Diskusi yang diselenggarakan bertepatan 51 tahun tragedi Gerakan 30 September 65 (G30SPKI), lebih masuk pada problem spesifik benturan NU dan PKI berperan besar pada proses sejarah tersebut.

“Bagaimana benturan yang terjadi dan bagaimana sejarahnya dahulu dan apakah memang antara NU dan PKI itu terjadi benturan yang tidak bisa di kompromi. Maka pada diskusi kali ini kita hadirkan Tedi Kholiluddin yang kapasitasnya sebagai dosen sosiolog. Terlebih bahwa UIN Walisongo yang mayoritas Islam (NU),” ujar Ketua KSMW, Umi.

Salah seorang yang hadir pada diskusi tersebut mengatakan, diskusi tersebut memberikan persfektif lain mengenai sejarah bangsa Indonesia.

“Diskusi ini bagus karena berbicara mengenai sejarah kelam tahun 1965. Meskipun kita tidak mengalami secara langsung. Sebagai generasi muda harus banyak membacara referensi mengenai sejarah,” ujar Arif Rahman mahasiwa Fakultas Sains dan Teknologi (j/MD)