Paskibara salah satu cabang lomba orsenik tahun 2016 yang dilaksanakan di Kampus I UIN Walisongo Semarang, Senin, (26/09) dok. FB : Dema FSH
Paskibara salah satu cabang lomba orsenik tahun 2016 yang dilaksanakan di Kampus I UIN Walisongo Semarang, Senin, (26/09) dok. FB : Dema FSH
Paskibara salah satu cabang lomba orsenik tahun 2016 yang dilaksanakan di Kampus I UIN Walisongo Semarang, Senin, (26/09) dok. FB : Dema FSH

Sorak-sorai penobatan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) sebagai juara umum Orsenik tahun 2016 tak menggambarkan keadaan keuangan yang carut-marut di Panitia Orsenik tingkat fakultas. Beberapa pendamping lomba harus merogoh kocek pribadi untuk ongkos kebutuhan lomba.

“Untuk membuat produk hanya dikasih 150 ribu. Uang segitu kurang. Pendamping dan peserta harus iuran agar bisa buat produk,” kata Elia pendamping lomba bisnis plan.

Status pendamping membutuhkan fisik dan mental untuk mengikuti setiap latihan atlet. “Capek pikiran. Harus merogoh kocek pribadi sama pinjam sana-sini punya teman. Setiap latihan peserta kami tarik untuk meringankan biaya. Ini ingin ambil uang tapi tidak segera cair,” kata Masrofi pendamping lomba badminton Fakultas Syariah dan Hukum

Selain kesejahteraan atlet dan suporter, kesejahteraan penanggungjawab di ranah fakultas dipertanyakan. Statusnya sebagai tulang punggung penggerak para atlet untuk bersemangat meraih prestasi tidak diperhitungkan keadaanya.

“Cabang karate baru dikasih uang 50 ribu. Aku mau nangis. Apa-apa harus pontang-panting sendiri. Penanggungjawab tidak pernah dikasih perhatian,” keluh salah seorang melalui pesan singkat pendamping lomba yang tidak mau disebutkan identitasnya, Rabu (28/09).

Saat reporter justisia.com mengklarifikasi kepada Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum. Bambang Riyanto membenarkan atas kekurangan dana yang ada. Memang ada beberapa cabang lomba yang belum dikasih uang, seperti karate, paduan suara, dan karaoke, tulisnya melalui pesan singkat. (j/RL)

Save

Save

Save

Save

Save

Save