UKT Dalam Forum Diskusi

0
321
biayakuliah.com
biayakuliah.com
biayakuliah.com

Gelombang aksi mahasiswa baru terkait permasalahan uang kuliah tunggal (UKT) menjadi isu hangat dikalangan mahasiswa. Bermacam cara mahasiswa untuk menyampaikan keluh kesah terhadap pihak birokasi. Mulai dari menulis surat terbuka, membuat meme, update status, hingga kajian komperhensif.

Besaran UKT yang ditentukan oleh jalur masuk yang dilalui oleh mahasiswa baru berdasarkan rekomendasi ketua jurusan masing-masing.

Hanendya menuturkan bahwa jurusan sangat mempengaruhi besaran UKT yang di dapat calon oleh mahasiswa. Bagi mahasiswa yang kedapatan memanipulasi  pendapatan orang tua, pihak kampus akan memasukan mahasiswa tersebut ke golongan 5-7 meskipun mahasiswa tersebut dari keluarga tidak mampu.

“Saya setuju dengan adanya UKT, karena mengganti sistem berbasis Badan Layanan Umum (BLU).  Sistemnya yang memukul rata  biaya administrasi, baik yang kaya maupun yang miskin. Namun, saya kurang setuju dengan penentuan UKT  karena banyak yang salah sasaran,” tutur salah satu panelis dalam acara diskusi bertajuk “UKT; Uang Kuliah Tunggal atau Uang Kuliah Tinggi” yang diadakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo di Angkringan Lintang Songo, Ngaliyan. Minggu (28/08)

 “Jika mau menolak UKT, kita harus mempelajari sistematika itu sendiri, dan harus membuat badan atau kelompok khusus untuk UKT. Misal, membentuk Program Kerja (POKJA) POKJA, Posko UKT, dan memberikan tugas esai kepada mahasiswa baru dengan tema mahalnya pendidikan,” ucap M.Chaerul Rais, BEM Fakultas Hukum Universita Diponegoro.

Rais sapaan akrabnya,  menegaskan, kita tidak bisa memukul rata semua perguruan tinggi dengan UKT, karena memiliki kebijakan dan sistem tersendiri. Dalam penetapan UKT masih kurang komperhensif, karena acuan yang paling pokok penentuannya adalah gaji orang tua dan foto rumah. “Seharusnya dipertimbangkan dulu dia mempunyai saudara berapa, rumah itu ngontrak atau tidak,” tutur panelis kedua.

“Tujuan UKT juga bagus, karena mensubsidi mahasiswa yang kurang mampu. Sistem UKT menggunakan sitem silang, golongan yang atas mensubsidi golongan yang bawah. Jika melakukan banding di UNNES bisa saja turun, paling maksimal 1 juta. Pengajuan banding tidak semuanya diterima,” ujarnya.

Melawan UKT

Lain pendapat dengan Dewan Ahli Ekosop KSMW, Mohammad Zaenal Abidin yang menjadi panelis dalam diskusi tersebut, “UKT harus dilawan dan ditolak. Meskipun dari kedua panelis tersebut setuju dengan adanya UKT, tetapi saya dengan tegas, tidak setuju dengan adanya UKT, Sistem UKT bobrok apalagi dalam pelaksanaannya. Saya menolak UKT atas dasar kemanusiaan,” tegasnya.

“Sebelum berubah ke UIN Walisongo, IAIN pada tahun 2010 – 2011 masih menggunakan sistem BLU, 2012 menggunakan sistem non-UKT, barulah pada tahun 2013 pertama kali menggunakan sistem UKT di IAIN Walisongo, bahkan sistem UKT tersebut digunakan diseluruh kampus di Indonesia”, ujarnya.

Gopal sapaan akrabnya,  menjelaskan sistem UKT  masih membingungkan, dia mengambil contoh di jurusan Perbandingan Agama, jika menggunakan sistem non-UKT dalam 8 semester ditaksir 11 juta. Jika menggunakan sistem UKT ditaksir 13 juta. Inilah yang masih menjadi polemik.

 

Save