Teknologi Mempermudah Fotografer

0
151
Fotografer Suara Merdeka, Sutomo memberikan materi pada seminar & ulang tahunn ke -3 Copy Lens di audit 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang (24/04). (dok. rais)
Fotografer Suara Merdeka, Sutomo memberikan materi pada seminar & ulang tahunn ke -3 Copy Lens di audit 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang (24/04). (dok. rais)
Fotografer Suara Merdeka, Sutomo memberikan materi pada seminar & ulang tahunn ke -3 Copy Lens di audit 1 kampus 1 UIN Walisongo Semarang (24/04). (dok. rais)

Perkembangan  fotografi dahulu hingga kini cukup signifikan. Dahulu betapa repotnya orang yang hanya mengambil satu foto harus memotret dan menjadikannya bentuk film kemudian baru dicetak. Proses yang begitu lama, berbanding teralik dengan peran media dituntut untuk kerja cepat dan tepat menyampaikan informasi ke masyarakat.

“Sekarang fotografer dan jurnalis dipermudah. Dahulu foto sebelum ditemukanya teknologi  itu dari film, kemudian dicuci  dulu, setelah itu dikirim baru dicetak. Hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kalau sekarang ini merupakan zaman keemasannya, kita motret kemudian bisa langsung dikirim. Ini karena kecanggihan teknologi  zaman sekarang” ungkap Sutomo.

Dalam fotografi terdapat juga kode etik yang harus ditaati  “Kalau jurnalistik mempunyai  kode etik, foto juga sama mempunyai kode etiknya. Foto yang ada di media, merupakan sudah mengandung kode etik, tidak mengandung unsur pornografi, sara, propaganda kekerasan dan lain-lain. Karena foto itu sama dengan tulisan jurnalistik,” tegas fotografer Suara Merdeka saat ditemui setelah acara seminar & ulang tahun ke – 3 dengan tema “payung kasih” di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang (20/04).

Seminar ini disambut baik oleh Nurul, mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora semester dua senang sekali diadakannya seminar ini, karena bisa menambah pengetahuan akan model-model kamera hingga bagaimana cara memotret yang baik dan benar, sampai mengetahui bagaimana penilaian yang sering dilakukan dalam lomba foto.

Lebih Mengenalkan

Sutomo menyarankan  kepada mahasiswa UIN Walisongo agar  bergabung di Copy Lens. “Kalau benar-benar mau belajari intens hasilnya akan baik. Hal itu dilihat dari minat dan bakat yang  tinggi, tinggal mengasah saja. Kenyataanya dari UIN Walisongo, Copy Lens ada yang memperoleh juara nasional fotografer dan mendapatkan hadiah,” tegasnya.

Di tahun yang ketiga, Copy Lens ingin menarik minat belajar mahasiswa UIN Walisongo Semarang terkait fotografi. “Ikut Copy Lens sebenarnya tidak harus memiliki kamera DSLR. Yang terpenting adalah kemauan belajar bersama. Dimana dalam satu minggu sekali kita selalu mengadakan gathering untuk belajar bareng mengenai fotografi,” tutur Ketua Panitia, Muhammad Khoirun Niam

Pria asal Pati menambahkan, kegiatan Copy Lens  selama tiga tahun selain gathering ada undangan dari luar kampus. Komunitas tersebut telah tergabung dalam Forum Komunikasi Fotografi Semarang yang terdiri dari Prisma (Undip), Miror (Unika), Fokus (USM), Klik (Unnes).