Sociology of Meme ; Meme Sebagai Respon Sosial (Bag. II)

0
120
sumber gambar : anekainfounik.net

sumber gambar : anekainfounik.net

Oleh : Masykur Rozi*

Identitas berbasis teritorialisasi dalam konteks siapa dia di tengan siapa. Biasanya identitas menjawab pertanyaan siapa saya, siapa kita dan siapa mereka. Jawaban ini, meskipun kita bisa mengembalikan kepada predikat dan entitas yang melekat di dalam diri kita masing-masing, namun memiliki konteks yang mengikatnya. Ketka kita memandagi facebook, kita ditengah jutaan pengguna lain, ada tingkatan khusus yang terdari sub-sub di dalam lingkaran besar identitas secara struktural di tengah pengguna media sosial lain. Hal ini seperti   merk, sering kali berfungsi sebagai perlambang identitas yang tidak sederhana, seperti “you are Lomborghini boy”, Cola-cola-man, dan mungkin di Indonesia, Lorier girl.

Banyak isu yang beredar di luar sana dan ketika ada sebuah status yang mecuat, apakah nantinya dapat dilihat secara jelas bagaimana identitas ditunjukkan di sana. Pada tataran tertentu merupakan sebuah tendensi khusus untuk condong terhadap realitas sosial yang ada. Apakah ini berarti kita harus melakukan sinkronisasi di antara aktor dalam isu yang muncul, lalu dengan analisis mendasar dapat disebut bahwa ia adalah golongan sana, sedangkan pada pihak lain ada status lain, yang berlawanan dan ia adalah golongan yang satunya.

Tentunya, kita harus menggunakan groupping secara cermat. Dalam masalah budaya konvensional (budaya non media), identitas dapat dideteksi melalui latarbelakang budaya yang menjadi latar hidup dan pemegang saham tertinggi dalam internalisasi background pictures dan stereotype yang ada di dalam dirinya. Itu artinya kita melakukan penyelidikan identitas berpola botton-up. Sebaliknya, di dalam budaya media seseorang harus terbalik, top-down, karena beranjak dari simbol ke background pictures, lalu melampaui nilai-nilai yang terbentuk untuk menemukan identitas sejati yang terlukis dari simbol “meme” tersebut.

Analisis identitas bukan hanya berangkat dari tindakan-tindakan di media. Akan tetapi harus secara simbolik tepat sasaran dengan apa yang dia katakan lebih lanjut. Terkadang karena alasan tertentu di atas media seseorang bersikap sesopan mungkin. Ketika pada saat tertentu, dalam konteks bahasa jawa, seseorang menuliskan “aku tresno marang awakmu, nduk”. Secara garis besar merupakan simbol yang merepresentasikan bahwa dia adalah orang Jawa (P. Suseno). Tetapi, pada kenyataan yang lain, di saat dia mengungkapkan “i love you, sis” dia adalah orang blue continent, dari orang yang sama, dengan dua bahasa yang berbeda dengan status identitas yang berbeda. Yang pertama merupakan batasan identitas etnis, sedangkan yang kedua adalah nasionalitas dan bisa berlanjut sampai manapun. Dua identitas yang saling tumpang tindih ketika dianalisis dari atas.

Masalah lain dari analisator adalah soal klasifikasi yang digunakan dalam groupping identitas masyarakat media. Apakah cukup hanya menggunakan dikotomi baik-buruk, islam-bukan, kristen-bukan, kasar-halus dan lain sebagainya, ataukah harus benar-benar mencari detail-detail yang ada, mengingat fasilitas yang ada di dalam media terdapat celah yang sangat lebar untuk memalsukannya. Apakah kita harus berperan sebagai peneliti fenomenologis, yang setiap kali membuka media sengaja melakukan mindblank (tanpa prasangka). (John W. Creswell, 2014: 173)

Menurut penulis, Hermeneutika mendalam, sepeti dikatakan oleh Thompson, merupakan metodologi yang potensial dalam membaca media, khususnya identitas pengguna yang hetrerogen. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, hal itu berkisar antara tiga elemen hirarkis; simbol, konteks (isu) dan konstruksi. Yang pertama merupakan analisa sosio-historis, berhubungan dengan kondisi sosial dan historis produksi, penyebaran dan penerimaan bentuk simbol. Fase kedua adalah fase analisa diskursif atau formal, yakni mempelajari bentuk-bentuk simbol sebagai konstruksi simbol yang kompleks yang menunjukkan struktur artikulasinya. Sedangkan yang terakhir adalah interpretasi, atau ‘reinterpretasi’, yakni penjelasan mendetail dan kreatif dari apa yang dikatakan dan direpresentasikan oleh sebentuk simbol. Oleh karenanya, ia berhubungan degan konstruksi makna yang kreatif.  (Joh B. Thompson, 2015:35-36). Sebenarnya jika kita berpikir lebih jauh, analisis ini dapat juga digunakan dalam konteks ideologi. Interpretasi ideologi membutuhkan pemahaman yang tepat: berarti menjelaskan secara detail hubungan antara maknay yng dikerahkan bentuk-bentuk simbol dengan relasi dominasi yang ada di dalamnya suatu makna untuk diarahkan guna mempertahankannya. Dalam tataran ini, ia sekaligus menggunakan kritik, dalam kata lain, semua ini diterapkan agar menyingkap makna yang diarahkan untuk melayani kekuasaan. Meskipun kita akan menyinggung ideologi, namun tidak sampai mendetail seperti Thompson, melainkan hanya sebatas supporting Idea.

*Pemimpin Redaksi Jurnal LPM Justisia 2016

Daftar rujukan

 John W. Creswell, 3rd edition of Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions, terj. Ahmad Lintang Lazuardi dengan judul: Penelitian Kualitatif dan Desain Riset: memilih di antara Lima Pendekatan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 3rd.ed: 2014), hal 173.

 John B. Thompson, Op.Cit, Kritik Ideologi Global, hal 35-36.