Wakil Rektor III : SPP Kita Kalah dengah TK

0
295
Wakil Rektor III, Prof. Dr. H. Suparman (memakai baju abu-abu) berada di tengah kerumunan mahasiswa yang menuntut transparansi UKT
Wakil Rektor III, Prof. Dr. H. Suparman (memakai baju abu-abu) berada di tengah kerumunan mahasiswa yang menuntut transparansi UKT

Semarang – “Saya punya anak kuliah di sini, SPP-nya hanya 600 ribu rupiah. Kalah dengan  SPP anak taman kanak-kanak, kita itu UIN dengan uang tunggal kuliah (UKT) termurah UIN se-Indonesia”, jelas Wakil Rektor III UIN Walisongo Semarang saat dimintai keterangan mengenai aksi Keluarga Besar Mahasiswa Walisongo (KBMW) di depan gedung rektorat UIN Walisongo Semarang. (14/03)

Wakil Rektor III juga menambahkan, UKT yang dibayarkan oleh mahasiswa hanya dapat menanggung 0,7% dari seluruh kegiatan. “Saya kira kalian mau menuntut tingkatkan UKT”, jelas pria yang juga dosen filsafat fakultas ushuludin & humaniora.

Demonstrasi yang dilakukan oleh KBMW, terdapat poin yang menuntut transparasi dana UKT yang selama ini dinilai salah sasaran, revisi UKT, serta penghapusan iuran tambahan KKL, PPL, dan KKN. Sistem UKT pun dinilai kurang berpihak terhadap mahasiswa ekonomi menengah kebawah, dikarenakan biaya yang dibayarkan sama dengan mahasiswa yang mampu membayar UKT kisaran Rp. 400.000 – 2.408.000

Mengingat dari UKT merupakan biaya yang dibayarkan oleh mahasiswa kepada kampus diolah selama satu semester untuk kegiatan per semester “Seluruhnya kan sudah ditanggung melalui pembayaran UKT. Jadi tidak boleh ada iuran tambahan lagi dalam KKL, PPL, dan KKN”, tutur Menteri Sosial dan Politik Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo.

Berdasarkan pengumuman nomor In.06.0/R.2/KP.02.3/013/2015 mengenai penetapan besaran UKT yang ditetapkan oleh UIN Walisongo Semarang untuk tahun ajaran 2015/2016 jalur SPAN-PTKIN berkisar Rp.400.00 –  Rp. 2.408.000. Jurusan baru  S1 Akuntansi Syariah dan S1 Perbankan Syariah terdapat 80 mahasiswa yang mendapatkan UKT di atas Rp. 2.000.000. “Meskipun UKT sudah tinggi, namun fasilitas masih segitu-gitu saja. Lab. Komputer Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) penggunaanya kurang maksimal dikarenakan jumlah komputer berbanding terbalik dengan jumlah mahasiswa yang banyak”, ucap Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa FEBI saat melakukan orasi di depan gedung rektorat. (j/FI)