(sumber gambar : kaltim.prokal.co)
(sumber gambar : kaltim.prokal.co)

 

Oleh : M.Yakub*

Di era kepengurusan Imam Nahrawi sebagai Menteri Pemuda & Olahraga, PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia dibekukan. Satu tahun sudah timnas tidak bisa mengikuti laga-laga internasional, mereka hanya disuguhkan pekerjaan tiga bulan sekali, karena hanya turnamen saja yang durasinya tidak lama. Vakumnya kompetisi ini banyak dimanfaatkan dengan dihelatnya turnamen-turnamen dimana hadiah  cukup bisa membuat pemain tidak jenuh dan bisa menafkahkan keluarganya yang hilang sejak dibekukanya federasi. Dari turnamen Piala Presiden hingga Piala Bhayangkara telah mengisi hiburan masyarakat yang sempat menghilang.

 Menjadi tontonan sangat menarik, tetapi perlu digaris bawahi tidak semua klub di Indonesia bisa mengikuti turnamen tersebut karena yang menjadi target pemasaran para sponsor adalah klub-klub yang berlaga di ISL. Dikarenakan dapat menarik konsumen untuk menjual produk berupa jersey klub yang menjadi idola masing-masing individu. Sepakbola memang sudah menjadi ladang rezeki bagi masyarakat Indonesia, ini  berdampak sekali ketika stadion-stadion tidak ada pertandingan. Para pedagang jersey yang kehilangan konsumenya hingga lapangan yang tidak terurus sehingga tak jarang ada stadion yang sudah tidak layak pakai karena rumput lapangan rusak.

Ketika turnamen telah banyak digelar, para pemain pun mulai jenuh mereka butuh kompetisi penuh,  turnamen saja tidak menolong prestasi para pemain karena mereka ingin tampil dilevel Asia. Melalui kompetisi penuh yang dijalankan oleh PSSI. Keinginan sebagian masyarakat untuk merevolusi  sepakbola Indonesia. Kita sudah geram dengan PSSI yang tak mampu memberikan prestasi untuk negara ini. Pemerintah mencoba mengambil alih lewat Tim Transisi. Jadi para pemilik klub mencoba berkomunikasi dengan PT. Liga Indonesia selaku operator. Terbentuklah PT. Gelora Trisula Semesta untuk sementara yang ingin menjalankan turnamen jangka panjang, karena untuk menjalankan kembali ISL belum bisa terlaksana disebabkan pembekuan PSSI masih “menyegel” untuk waktu yang tidak ditentukan.

Awalnya Imam Nahrawi tidak memberikan lampu hijau untuk TSC berjalan, karena PT. GTS enggan berkordinasi dengan Tim Transisi dan BOPI. Peserta TSC sudah mempersiapkan matang-matang kompetisi ini sejak dua bulan terakhir. Tudingan dari  tim transisi bahwa TSC dibuat untuk meraup keuntungan para pelaku, seperti yang ada di PSSI. Karena alasan tim transisi TSC enggan diverifikasi BOPI dan tidak terdapat aturan promosi serta degaradasi klub yang mengikuti kompetisi tersebut.

Joko Driyono menjawab hal itu bahwa TSC ini sebagai persiapan ISL 2017 karena ditahun ini tidak mungkin dengan alasan masih dibekukannya PSSI oleh pemerintah yang mengurungkan niat itu. Secara hukum PSSI statusnya bebas dari segelnya sebab KEMENPORA sudah gagal dalam banding kasasi di MA, apabila dalam dua puluh satu hari Imam Nahrawi tidak mencabut pembekuanya maka secara otomatis PSSI aktif kembali.

Hal yang membangkitkan pelaku sepakbola Indonesia untuk segera berbenah mengejar ketertinggalan oleh negara-negara lain. Jokowi pun akhirnya angkat bicara tentang pembekuan PSSI, ia berkata bahwa bulan mei PSSI sudah bisa aktif kembali. Itu sudah diperlihatkan oleh presiden dengan mengizinkan dan mendukung digelarnya turnamen jangka panjang yaitu TSC yang disponsori oleh torabika.

Sesuai arahan Presiden, Imam nahrawi mengizinkan laga-laga TSC digelar, ini membuat para pelaku sepakbola di Indonesia sangat bahagia, TSC sendiri akan di buka tanggal 29 april di Papua pertandingan antara Persipura versus Persija. Tim transisi dan BOPI pun ikut mendukung langkah Imam Nahraw.

GTS selaku operator sangat inovatif dalam regulasi TSC ini, mereka tidak menginginkan adanya tunggakan gaji kembali dengan budget setiap tim harus mempunyai dana operasional minimal lima milyar.. Apabila terdapat dana menunggak satu bulan saja maka point otomatis akan dikurangi, apabila terus menerus maka akan dikeluarkan dari liga. Kebijakan ini didukung oleh semua peserta. Transaparansi dana pun mulai diberlakukan tidak Loncatan dari sepakbola Indonesia yang sedang “sakit”, PT. GTS pun mulai memberlakukan pengaturaran penempatan sponsor dijersey setiap klub, ini sangat membantu supaya jersey klub lebih elegant dan tidak seperti benar-benar sedang berjualan dipasar.

Wajah baru ini harus dipertahankan dan dikelola dengan baik agar kompetisi kita lebih bermutu dan tidak merugikan siapapun. PSSI  bisa belajar dari pembekuan ini, dengan tidak melakukan revolusi mental terhadadp kebijakan-kebijakan yang  akan di ambil. Saatnya kembali unjuk gigi kepada dunia, bahwa Indonesia lahir kembali. Membawa semangat perubahan untuk prestasi yang lebih baik.

Semoga pemerintah alibi pemerintahan surut seiring aktif kembali PSSI. ISL dapat kembali digelar setelah tercabutnya sanksi PSSI dari FIFA, ini harapan kita semua. TSC bisa menjadi target yang baik untuk timnas. Dapat bersaing dikancah internasional.(j)

*Mahasiswa Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah & Hukum UIN Walisongo Semarang