Pluralitas Agama dalam Negara

0
276
Simbol keragaman berupa tangan warna-warni ( gambar : islamlib.com)
                                                      Simbol keragaman berupa tangan warna-warni ( gambar : islamlib.com)

Dewasa ini, gejolak dunia dalam pluralisme semakin terasa. Namun kenyataannya, di tengah-tengah kegemerlapan perubahan tersebut, negara kita justru berbanding terbalik dengan  kultur yang ada. Kekerasan dan konflik bermunculan yang tak lain dipicu karena minimnya paham keberagamaan, etnik, dan budaya yang pluralis. Untuk itu, kita perlu memahami konteks pluralisme agama sesungguhnya. Mengingat negeri kita adalah negeri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Selain kaya akan sumber daya alam, Indonesia juga kaya akan ras, suku, etnik, dan agama di dalamnya. Maka ini adalah tugas kita bersama untuk menyikapi dan mengkaji dari perspektif teologisnya, yaitu bagaimana sikap Islam terhadap pluralisme yang ada di negara ini.

Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an mengenai keberagaman. Tujuannya tidak lain adalah untuk menciptakan suatu kedamaian dan keharmonisan sesuai dalam keberagaman tersebut. Selain itu, umat manusia dianjurkan untuk saling berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Dalam hal ini sebenarnya kembali lagi kepada manusianya sendiri. Sebenarnya ego manusia sendirilah yang menolak keberagamaan lain dan bukan kesalahan dari tradisi-tradisi agama lain. Mereka beranggapan bahwa hanya agama yang mereka anutlah yang paling benar dan menistakan agama lain.

Padahal, dalam segala konsep kehidupan terdapat suatu hukum yang mengaturnya. Begitu juga dalam menganut sebuah agama. Sesungguhnya hukum-hukum dan jalan hidup bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Namun dalam eksistensi peribadatan atau keilahian adalah sama. Beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamnya juga mengungkapkan tentang napak tilas pluralisme dalam keberagamaan. Diantaranya;

  1. Al-Baqoroh ayat 148

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”.

Ayat ini yang menjadi landasan untuk selalu ingat dan kembali kepada Tuhan sebagai umat beragama.

  1. Al Hajj ayat 40

 “Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah”. (QS. Al-Hajj: 40).

Ayat diatas adalah salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang memaparkan bahwa semua tempat ibadah harus dihormati dan dilindungi tanpa terkecuali.

Disinilah letak bagian yang  sangat signifikan perihal tentang pluralisme agama. Jadi, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tidak ada termpat  ibadah yang lebih sempurna. Semuanya  adalah sama. Hal ini sudah dipraktikkan Nabi Muhammad SAW saat dibentuknya Piagam Madinah, yang mana dalam sejarahnya bahwa dikala masa itu. Nabi mengadakan sebuah kesepakatan antara orang Islam yang dipimpin Nabi, dengan orang-orang non-muslim yang berada dalam kota tersebut. Isi Piagam Madinah ini sangat  demokratis. Namun, Nabi tidak mengklaim dirinya sebagai penguasa kota itu.

Dalam buku karya Mun’im A. Sirry yang berjudul Membendung Militansi Agama: Iman dan Politik dalam Masyarakat Modern, mengatakan bahwa dari peristiwa inilah banyak sarjana Muslim berpendapat, bahwa Piagam Madinah yang dibuat Nabi secara spirit mendukung konsep nasionalisme modern, bukan nasionalisme yang didasarkan atas agama. Oleh karena itu, masyarakat Madinah disebut sebagai civil society.

 Fenomena pluralitas agama telah banyak menyita perhatian para teolog, filosof, budayawan, kaum akademik, dan para cendekiawan. Peristiwa ini terjadi sejak abad ke 20-an, khusunya pada dekade kedua. Meskipun saat itu banyak pemikir-pemikir tentang pluralis agama, namun Prof. John Hick, salah seorang tokoh pluralis yang paling bertanggung jawab menulis dalam sebuah artikelnya yang berjudul Religious Plurralism. Mengatakan bahwa pada dasarnya semua agama adalah sama. Tidak ada yang lebih baik atau benar antara yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan ini diungkapkannya secara  sophisticated. Sejauh ini, tulisan Anis Malik dan Samson Rahman yang berjudul Pluralisme Agama Ditilik dari Nalar Kritis dan Historis dapat dikatakan paling elaboratif dan tajam dalam mengkritisi sebuah gagasan pluralisme agama yang ada di Indonesia saat ini.

Dalam Al-Qur’an, ditemukan bahwa sedikitnya ada tiga sikap terhadap non-muslim, yakni: positif, netral, dan negatif. Sikap positif misalnya dinyatakan secara eksplisit dalam ayat  ”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” . (QS. Al-Baqoroh:62).

Sedangkan sikap netral dipaparkan dalam Al-Qur’an sebagaimana dalam surah Al-Kafirun ayat 6, yang berbunyi: “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Adapun sikap negatif ditunjukkan Al-Qur’an dalam beberapa konteks. Sebagian mereka mengubah kitab suci mereka untuk kepentingan mereka, berlebih-lebihan dalam beragama, atau menunjukkan permusuhan dan penghianatan kepaada Nabi dan komunitas muslim ketika itu. tertuang dalam Al-Qur’an:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqoroh: 120)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”. (QS. Al-Maidah: 5)

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: