Usaha mendialogkan LGBT dari berbagai persfektif

Gemerlapan bintang malam bertaburan di atas cakrawala awan. Hawa angin sepoi malam menyelimuti suasana kegelapan. Hanya memanfaatkan lentera penerangan dari biasan sinar rembulan dan sebuah lampu pijar. Lantai yang beralaskan sisa-sisa baleho bekas yang tak terpakai lagi. Tak menyurutkan niatan kami tuk bercengkrama dalam satu halaqoh. Hilir mudik waktu, satu persatu teman-teman berdatangan.

Diskusi kali ini sungguh berbeda dari biasaanya. Ya, memang ini settingan dari awal. Suasana yang agak gelap. Ditambah ruang diskusi yang sedikit agak tertutup. Merupakan upaya kami dalam menghormati tamu kami selaku narasumber. Dalam diskusi ini kami langsung mendatangkan tiga narasumber yang berassal dari komunitas “Rumah Pelangi”. Atau lebih tepatnya komunitas LGBT wilayah Semarang. Diskusi ini, narasumnber sangat terbuka. Bahkan bisa dibilangan blak-blakan dalam penuturannya.

Kita berangkat dari pola bipolar atau spektrum LGBT dalam ranah ini. Kelompok  ini dianggap aneh bahkan dicap sebagai orang yang berdosa, baik agama maupun kalangan masyarakat. Karena banyak yang memandang manusia hanya diciptakan dari dua golongan saja, laki-laki dan perempuan. Kemudian kita membatasi kreteria ini dengan tegas, antara laki-laki dan peremmpuan. Seringkali dalam penafsiran kebanyakan masyarakat, bahwa sosok lelaki itu: Maskulin, macho, gagah, pencari nafkah, pemimpin rumah tangga, agresif, dan berkarakter seorang pemimpin. Sedangkan penafsiran seorang perempuan adalah: Feminim, lemah-lembut, ke-ibuan, mengurus rumah tangga, mengasuh anak, menyusui, dan berkarakter sebagai ibu rumah tangga.

Cara pandang semacam ini disebut dengan poa bipolar atau pola dua kutub (binary conccept; gender binary). Pokoknya manusia hanya terdiri dari  lelaki  sejati dan perempuan sejati. Manusia yang tidak memenuhi kedua kriteria ini dipandang tidak normal, berdosa karena melawan takdir, dan harus bertobat. Mereka yang berada di luar kelompok bipolar tadi merupakan kelompok yang dianggap kaum minoritas. Dan mereka mengungkapkan bahwa dalam kaum hiteroseks, ketika mereka jatuh cinta kepada seseorang maka dia cenderung  langsung mengutarakan perasaannya kepada lawan jenisnya. Lain halnya dalam kehidupan seorang LGBT. Mereka cenderung akan malu dan terus menitupi dengan perasaannya. Namun, dalam kehidupannya sebenarnya seorang LGBT juga mempunyai hasrat untuk mencintai lawan jenisnya.

Kajian ini menemukan bahwa pola bipolar tidak dapat mencerminkan realita hidup manusia. Lebih tepat disebut dengan pola hidup spektrum, yang menunjukkan adanya gradasi atau diversitas atau keragaman antara lelaki dan perempuan. Dewasa ini banyak orang memakai genderbread person untuk  menjelaskan peta gender dan seksualitas. Di situlah gender dan seksualitas dikategorikan menurut empat aspek: Jenis kelamin (biological sex), orientasi seksual (sexual orientation), identitas gender (gender identity), ekspresi gender (gender expression. Keempat faktor ini bercampur aduk, berpadu dalam diri, membuat tiap orang memiliki gender dan seksualitas yang unik dan bervariasi. Peta ini belum sempurna karena belum memasukkan kelompok minoritas gender lain seperti kelompok aseksual. Namun  telah membuat kita lebih mampu memahami LGBT.

            Sedangkan LGBT dipandang dari segi feminisme yang dijadikan sebagai otokritik. Dalam memahami LGBT seringkali setiap orang atau kelompok menggunakan kaca matanya masing-masing. Ada yang memahaminya dengan sudut pandang ilmu pegetahuan seperti psikologi, sosiologi, bahkan biologi. Ada pula yang melihatnya dengan sudut pandang budaya, hukum, nilai-nilai moral dan agama. Sudut pandang terakhir ini tampaknya menjadi arus utama. Sehingga yang sering mengemuka adalah pendapat yang menyatalkan bahwa LGBT itu tidak lebih dari sesuatu yang haram dan harus diberantas. Untuk pengaitan antara LGBTdan feminisme sendiri adalah, karena gerakan feminisme sendiri merupakan gerakan perjuangan kesetaraan gender.

            Menurut Bahsin dan Nighat dalam bukunya Some Question of its Relevance in South Asia mendefinisikan  bahwa feminisme sebagai suatu kesadaran  akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan di masyarakat, tempat kerja, dan keluarga, serta  tindakan sadar oleh perempuan dan laki-laki untuk mengubah kesadaran tersebut. Maka hakikatnya dari feminisme masa kini adalah perjuangan untuk mencapai kesetaraan, harkat, serta kebebasan perempuan untuk memilih dalam mengelola kehidupan dan tubuhnya. Baik di dalam maupun di luar rumah tangga.

            Hingga saat ini, gerakan feminisme bisa dibilang cukup berhasil menjellaskan hubungan tidak adil antara laki-laki dan perempuan, tapi belum cukup mengurai ketidak adilan yang  bersumber pada seksualitas. Feminisme terlalu banyak berkonsentrasi pada gender. Kalaupun ada pembicaraan soal seksualitas.

Sementara itu, dalam prespektif agama dalam kajian kitab kuning masih rumpang keabsahannya mengenai fenomena LGBT. Dalam kitab kuning, biseksual dikatakan sebagai Almakhdukh dan sedangkan homoseksual Aljinsiyyah. Jika mendapatkan LGBT ini  sebuah tindakan. Gay dalam kasus ini kita bisa mengkaitkannya dengan kisah kaum Nabi Luth. Menurut Imam Abu Hanifah, dalam hal ini tidak ada sanksi khusus terhadap pelakunya. Namun menurut Sarjana Islam lainnya ada. Sedangkan menurut para ulama Baghdad hukumannya harus dibunuh. Dan para lesbian (As-Shihaq) hukumannya hanya dengan ta’zir. Dalam hukum Islam hanya memandang tentang perbuatan atau tindakan saja. Namun, jika hanya untuk sebagai kesenangan hati  itu murni tidak ada larangannya.