Burqa dan Wanita Afghani

0
141

13081988_1610704042589278_1106881448_nJudul Buku      : Selimut Debu; Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan

Penulis             : Agustinus Wibowo

Cetakan ke      : Empat

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : IV, April 2013

Tebal               : xiii+461 Halaman

ISSN               : 978-979-22-7463-9

Peresensi         : Nur Hikmah

Ketika mayoritas penghuni bumi gencar menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM) di berbagai belahan dunia, hal kontras terlihat di negara “selapis debu”. Perjuangan hidup dalam kepulan debu masih bersahabat erat dengan sebuah negara yang membiaskan kedamaian yang  dimiliki. Gemercik air sungai di padang hijau luas, gunung-gunung terjal, gerombolan ternak tergantikan oleh suara granat, tembakan, dan gerilyawan yang menyergap tank. Afghanistan, negeri penuh misteri di balik selubung debu dan ledakan dinamit. Seolah, harga nyawa di Afghanistan sangat tidak berharga.

Kesengsaraan serta kepayahan masyarakat Afghan tergambar jelas di buku yang ditulis Agustinus Wibowo. Buku yang berjudul Selimut Debu ini menceritakan perjalanannya menelusuri Afghanistan pada 2006 silam. Bagaimana perjuangan menapaki kaki di negeri yang sedang mengalami konflik serta tidak adanya jaminan keselamatan.

Afghanistan dihajar perang beberapa dekade. Negeri ini dipenuhi dengan orang tak bertungkai, anak yatim piatu, kaum malang yang lumpuh total, serta para janda yang harus berjuang pasca kematian suami mereka dalam medan tempur. Komunitas korban perang tampaknya akan mewarnai masa depan Afghanistan sampai beberapa puluh tahun ke depan. (hal. 54)

Penjelasan keragaman Afghanistan beserta konflik-konflik yang terjadi ditulis secara rinci. Dari beberapa pembahasan tersebut ia juga menyoroti kehidupan wanita Afghani. Bahkan dalam kata pengantar ia memberi judul pada prolognya “Menyingkap Cadar”. Pembahasan yang menarik mengingat mayoritas wanita Afghani masih kuat dengan tradisi mereka mengenakan burqa.

Burqa merupakan pakaian yang dikenakan oleh perempuan di Afghanistan. Seluruh bagian tubuh terbungkus. Hanya  ada lubang-lubang kecil di bagian mata, tempat si perempuan mengintip dunia.  Mereka bisa mengintip dunia, tetapi dunia tidak bisa mengintip mereka. Meski menurut sebagai ini tampak seperti kurungan. Bagi mereka buqra adalah perlindungan di negeri yang kental patriarkatnya dan banyak faedahnya. Tidak ada kenyamanan dengan pengapnya nafas ikut terkurung dan terisap kembali. Namun tak sedikit pula yang merasa nyaman dan tenang dengan kenihilan identitas.

Setelah Bush menawarkan atas anggapan keterkukungan burqa dan kebebasan dari Taliban, wanita Afghan beramai melepas keterkukungan burqa dan berpoles dengan lipstik mereka. Namun, sebagian besar perempuan Afghan masih lebih nyaman dengan berselimut burqa. Kaum wanita tak berwajah masih saja menyelimuti kabul. (151)

Sa’dat, seorang wartawan radio Takharistan berkomentar mengenai orang-orang asing yang selalu ribut dengan burqa. Padahal adat ini sudah menjadi budaya mereka sejak beratus-ratus tahun. Meski sepanjang pengetahuannya, burqa pada masa awalnya adalah kultur dan setelah agama datang, kutur tersebut bercampur dengan agama.

Para wanita Afghan sudah merasa nyaman dengan kehidupan dan budaya mereka. Sehingga ketika mereka diperlihatkan dengan foto wanita Malaysia yang bebas bekerja di pabrik mereka merasa iba. Mengapa seorang perempuan mau diperbudak dengan menjadi pekerja.

Kaum lelaki Afghan sangat menjaga dan menghormati kaum wanita. Tidak pernah mereka menyebutkan nama isteri atau anak perempuan mereka dalam dialog. Bahkan ketika seseorang menitipkan salam untuk isteri sahabatnya, hal tersebut sudah dianggap tabu.

Selain itu, Agustinus juga menceritakan kehidupan yang berbeda dalam negara yang sama. Kemewahan para ekspatriat orang-orang asing di Kabul. Mereka yang mengaku sebagai pekerja sosial bagi kemanusiaan namun menghabiskan malam dengan gemerlap gaya Eropa. Kenikmatan hidup yang ekslusif. Tidak hanya itu, mereka juga melarang orang Afghan untuk masuk. Di negeri yang masih terselimut debu ini terdapat pusat perbelanjaan mewah. Bangunan mewah ini diperuntukan untuk orang asing dan orang Afghan yang beruang. Mereka yang penampilannya tidak layak, berasal dari kelas ekonomi rendah, atau janda miskin berbalut burqa tambal sulam sukar masuk ke dalam. (hal. 46)

Meski banyak gelontoran dana milyaran dolar yang dikucurkan untuk membantu Afghan tetap saja utopis. Dari dua puluh lima miliar dolar dana bantuan yang digelontorkan sejak jatuhnya Taliban, diperkirakan hanya dua puluh persen yang sampai ke rakyat Afghan. Dana yang menggiurkan tersebut menjadikan korupsi semakin menggila dan menempatkan Afghanistan di jajaran sepuluh besar negara terkorup di dunia. (hal. 73)

Namun, sebagaian ekspatriat merasa kehidupan mewah dan gaji yang besar tetap saja seperti penjara. Mereka hidup dinegara yang bisa mengganggu tidur nyenyak mereka dengan adanya roket nyasar.

Dalam perjalanannya pula, Agustinus bertemu dengan Nancy Hatch Dupre, wanita kelahiran Amerika Serikat yang sangat mencintai Afghanistan. Nancy menceritakan bahwa sebenarnya orang Afghan adalah orang paling ramah di dunia. Namun, keramahan tersebut sering disalahgunakan oleh para pendatang. Turis sering tidak sadar bahwa mereka telah menyakiti hati penduduk dengan menginjak-injak aturan dan norma yang berlaku. Seperti para turis yang datang dengan pakain yang transparan. Atau bahkan musafir yang ditolong orang Afghan namun malah menjarah semua barang yang ada di toko milih Afghan tersebut.

Nancy juga mengkritik dengan adanya program berbagai organisasi internasioanl yang tidak efisien dan tepat sasaran, seperti kesetaraan gender. Menurutnya, konsep asing tersebut malah bertubrukan dengan nilai-nilai yang mereka anut. Karena kesetaraan gender sudah ada dan hidup dalam masyarakat tradisional Afghanistan.

Selain bertemu Nancy penulis buku juga bertemu dengan seorang Kandahari. Kandahari menceritakan lelucon kepada Agustinus mengenai kehidupn orang Afghani.

 Pembeli: berapa harga kepala kambing ini?

Penjual : lima puluh ribu

Pembeli: lima puluh ribu? Terlalu mahal, dua puluh saja

Penjual: Apa? dua puluh Afghani? Kamu gila?kamu kira ini kepala manusia?

Kandahari menjelaskan bahwa semua harga di Afghanistan mahal, hanya satu yang murah-yawa manusia. Bisa dibayangkan, bagaimana mereka berjuang untuk bisa mengumpulkan uang demi melihat mentari pada esok hari.

Buku yang ditulis oleh traveller sekaligus explorer ini sangat menarik dengan menyuguhkan kehidupan Afghanistan sebagai kajian. Suguhan budaya, konflik, keindahan yang tersamarkan, serta agama di negara beribukotakan Kabul ini.  Penjelasan yang sangat mengena kepada pembaca karena penulis buku menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Selain itu, buku ini juga disertai gambar potret kehidupan masyarakat Afghanistan.

Tetapi dalam beberapa sub tema, penulis buku sering meloncat kedalam pembahasan yang lain atau tidak satu pembahasan. Ini menuntut pembaca untuk jeli dalam mancari poin dalam setiap tema. Tapi terlepas dari itu semua, buku ini sangat cocok dibaca oleh kalangan akademisi, sejarawan, atau buku panduan bagi para petualang.