Mengikuti Kuliah Malam, Tiga Mahasiswi Kesurupan

0
119
salah satu korban kesurupan tampak ditenangkan teman-temannya.
salah satu korban kesurupan tampak ditenangkan teman-temannya.

Justisia.com-Fenomena kesurupan masal menimpa tiga mahasiswi IAIN Walisongo Semarang, Jumat (5/9). Kesurupan terjadi saat korban hendak mengikuti kuliah malam hari pukul 18.30 Wib. kejadian tersebut tepatnya terjadi di depan gedung G kampus 3 IAIN Walisongo Semarang.

Kejadian ini mengakibatkan suasana di sekitar gedung G menjadi panik, melihat tiga teman mereka mengalami kerasukan, sontak yang lain membantu temannya yang mengalami kerasukan supaya tidak jatuh dan menghantam lantai.

Kejadian ini sudah sering terjadi di lingkungan kampus III IAIN Walisongo. Salah satu mahasiswa menuturkan, kejadian semacam ini tidak hanya pertama kalinya terjadi, namun beberapa waktu lalu juga terjadi di belakang Perpustakaan Institut IAIN.

“Kejadian ini bermula saat kami sedang menunggu dosen yang belum datang, tiba-tiba ketiga mahasiswi ini mengalami kesurupan yang diawali dengan tak sadarkan diri secara serentak. Hal ini sudah sering terjadi, bahkan pernah dibelakang perpus institut, tapi anehnya selalu barengan mas”, tutur sagita salah satu mahasiswa IAIN kepada reporter Justisia.com.

Ketiga mahasiswi itu sempat mendapatkan pertolongan dari mahasiswa dan orang yang baru selesai menunaikan sholat Isya di masjid kampus 3, dan dari ketiganya hanya satu orang yang sulit dipulihkan, sedangkan dua lainnya masih bisa mengendalikan diri dari gangguan tersebut. Akhirnya ketiga mahasiswi itu secara bergantian dipindahkan menggunakan motor dan menuju rumah seorang ustadz di kawasan Beringin. Alhamdulillah, ketiganya kembali pulih setelah mendapat terapi Ruqyah.

Seorang mahasiswa Fakultas Dakwah yang ikut menangani para korban juga menginformasikan bahwa beberapa hari sebelumnya juga terjadi hal serupa di kampus Dakwah, dua orang mahasiswa kesurupan. Dia menjelaskan, kemungkinan gangguan berasal dari lokasi-lokasi di dalam lingkungan kampus 3 yang sedang dibuka untuk pembangunan gedung-gedung baru.

Sedangkan seorang warga Wismasari yang ikut membantu meruqyah di sekitar masjid menambahkan, kemungkinan pihak kampus kurang memperhatikan kondisi “pembukaan” lahan untuk gedung itu dengan baik. “Setidaknya ‘dibersihkan’ dulu lah” jelasnya, “mengingat lokasi-lokasi yang sudah lama menjadi belantara bambu itu sudah sejak lama tidak dijamah,” ungkapnya. “… dan kita sebagai manusia juga harus menjaga etika kepada sesama makhluk-Nya” kata lelaki itu lagi. ([j])