Bolehkah Praktek Perbankan atau Jihbiz?

0
158

bankPerbankan adalah suatu lembaga yanh melaksanakan tiga fungsi utama yaitu menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum muslimin, fungsi-fungsi bank telah dikenal sejak zaman rasulullah SAW. Fungsi tersebut adalah menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumen dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang.

Kata jihbiz, kalau diera modern saat ini bisa dibilang bank. Namun istilah bank memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan islam. Yang dikenal adalah istilah jihbiz. Kata jihbiz ini berasal dari bahasa persia yang berarti penagih pajak. Istilah jihbiz mulai dikenal di zaman Mu’awiyah, yanh ketika itu fungsinya sebagai penagih pajak dan penghitung pajak atas barang dan tanah. Di zaman Bani Abbasiyah, jihbiz populer sebagai suatu profesi penukaran uang.

Dalam urusan muamalat, hukum asal sesuatu adalah dipernolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini berarti ketika suatu transaksi baru muncul dimana bekum dikenal sebelumnya dalam hukum islam, maka transaksi tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat implikasi dari dalil Al-Qur’an dan Hadits yang melarangnya secara ekspkisit maupun implisit.

Begitu pula Islam menyikapi perbankan atau jihbiz yang pengertiannya sudah dijelaskan sebelumnya. Pada dsarnya ketiga fungsi utama perbankan adalah boleh dilakukan, kecuali bila dalam melaksanakan fungsinya perbankan melakukan hal-hal yang dilarang syari’ah. Nah, dalam praktek perbankan konvensional yang dikenal saat ini, fungsi tersebut dilakukan berdasarkan sistem bunga.

Bunga adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang(al-qardh) yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan atau hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti dimuka, dan pada umumnya berasatkan presentase.

Sedangkan riba merupakan tambahan tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya. Dengan demikian pembungaan uang telah memenuhi kriteria riba. Praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk riba dan riba hukumnya haram.

Bank konvensional tidak serta merta identik dengan riba, namun kebanyakan praktek bank konvensional dapat digolongkan sebagai trandaksi ribawi. Karena telah dijelaskan sebelumnya dari definisi fiba, sebab dan tujuan (hikmah) pelarangan riba, maka dapat diidentifikasikan praktek perbankan konvensional yang tergolong riba.

Riba fadl (yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya, sama kuantitasnya dan sama waktu penyerahannya) dapat ditemui dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan secara tunai. Riba Nasi’ah (riba yang timbul akibat hutang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko dan hasil usaha muncul bersama biaya) dapat ditemukan dalam pembayaran bunga kredit dan pembayaram bunga tabungan atau deposito/giro. Riba jahiliyah(hutang yang dibayar melebihi dari pokok pinjaman, karena si peminjam tidak mampu mengembalikan dana pinjaman pada waktu yang telah ditetapkan) dapat ditemui dalam transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.

Jelaslah bahwa perbankan konvensional dalam melaksanakan beberapa kegiatannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk memperkenalkan praktek perbankan berdasarkan prinsip syari’ah.