Ulil Abshar-Abdalla di Ultah Jutisia

0
160

ulil-2Justisia.com- Memperingati hari ulang tahun, bagi banyak kalangan merupakan suatu momentum yang cukup berharga. Ulang tahun Justisia mengadakan seminar nasional yang menghadirkan Ulil Abshar Abdalla, sang Filosof Indonesia dari Jakarta dan M. Arja’ Imroni, Cendekiawan muda IAIN Walisongo. Dipandu Tedi Kholiludin, Direktur Elsa Semarang acara diskusi bertajuk Pandangan Islam Tentang Kesatuan Transendental Agama-Agama terkesan sangat mewah, bahkan terkesan VVIP. Bahkan di tempat Auditorium I lt. 2 Kampus I IAIN yang biasanya hanya bisa menampung 200 peserta, dipenuhi antrian peserta penuh sesak yang berhasrat ingin mengikuti seminar.

The Unity of Religion
Dalam seminar tersebut, Ulil yang sekarang menjadi fungsionaris Partai Demokrat memaparkan tentang isu atau ide tentang kesatuan agama-agama (The Unity of Religion). Ia menjelaskan bahwa isu ini muncul kali pertama pada abad 4H/10M. Di saat perkembangan tasawuf falsafi bersifat spekulatif, intelektual. Salah satu tokoh besarnya adalah al-Junaid, yang berindikasi menganut ide tentang Wahdatul Wujud atau ‘Manunggaling Kawula gusti’. Ide ini memandang bahwa kenyataan-kenyataan atau fenomena-fenomena yang kita lihat secara kasat mata adalah fenomena maya, hanya palsu belaka. Hakikat dari kenyataan ini hanya Tuhan. Tuhan itu satu yang manifestasinya terdapat dalam ciptaannya yang beragam. Seperti falsafah Bhineka Tunggal Ika yang beragam, tapi esensinya satu. Bagi Junaid, dunia ini adalah cerminan dari Tuhan yang satu, tidak hakikat. Kemudian kaum yang menganut ide ‘manunggaling kawula gusti,’ jamak mengikuti ide tentang kesatuan agama-agama (The transcendent unity of religion). Agama-agama itu bentuk luarnya banyak tapi intinya satu.
Menurut Ulil, pandangan atau sikap Islam tentang isu ini, ada dua jawaban, ada yang menolak dan ada yang tidak, tergantung bagaimana kita melihat ide tersebut. Orang-orang yang ada pada jalur bayani, para ulama fiqih, kalam, fiqih, umumnya mereka hampir 99% menolak. Karena, agama tidak bisa dianggap satu. Dalam al-Qur’an, jelas ada dasar, Innaddina ‘Indallahil Islam (sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam). Dan orang-orang yang percaya dengan ide kesatuan agama-agama ini dianggap kafir.
Orang-orang yang berada dalam tradisi tasawuf Falsafi, gagasan itu bukan hal yang aneh, hal yang biasa. Salah satu tokohnya yaitu, Ibnu ‘Arabi. Dia lahir di Spanyol. Pernyataannya, semua agama itu Intinya adalah sama. Kesatuan yang sifatnya transcendent itu sama. Agama dari luarnya itu memang berbeda, namun esensinya adalah sama. Kata Ibnu ‘Arabi: “Dahulu saya pernah percaya bahwa teman-teman saya yang tidak sama dengan agama saya adalah salah dan saya tolak. Namun sekarang hati saya itu menerima segala bentuk kepercayaan yang ada.” Singkat kata, “Aku beragama dengan agama cinta. Kemanapun kendaraan cinta ini mengarah, maka agama yang menjadi tujuannya adalah kedamaian apapun bentuknya,” Tandas Ulil, yang kini mulai berkecimpung di dunia politik di Partai Demokrat ini.
Ada juga dalam karyanya, Usulul Hikam, “Jangan sekali-sekali anda terikat dengan akidah tertentu, dan kemudian mengkafirkan yang lain. Kalau kalian bersikap demikian, maka anda akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh hal yang baik. Maka, jadilah dirimu seperti hayulak, meteri yang bisa dibentuk menjadi apa saja, jadilah seperti hayulak yang bisa menerima segala bentuk akidah. Sebab Tuhan itu terlalu besar untuk diringkus dalam satu akidah. Setiap akidah itu benar. Setiap yang benar itu mendapat pahala. Setiap pahala mengandung kebahagiaan.
Di akhir pemaparannya, Ulil memaparkan pendapat atau syair dari al-Jinny yang nasibnya sama tragisnya dengan beberapa filosof, dibunuh. Manusia itu sejatinya seperti salju yang bentuknya beda-beda, tapi intinya sama, air. Salju jika dia meleleh, maka salju itu akan kembali ke bentuk asalnya, air. Walaupun bentuk dari salju itu berbeda-beda. Kira-kira manusia kenyataan tunggal yang sama. Agama yang beda intinya adalah satu. Di akhir syairnya al-jimmy mengatakan, saya ini dari sudut pandang syariat orang yang berbuat maksiat, tapi dalam ilmu hakikat saya ini orang yang taat.

Aspek Tafsir.
Pembicara kedua, M. Arja’ Imroni dengan sedikit banyolan manisnya, mulai membahas tema ini melalui aspek penafsiran teks Qur’an dan Hadis. Pandangan al-Qur’an terhadap kesatuan agama-agama, sulit untuk dikonstruksikan. Karena yang tampak dari luar, banyak ayat-ayat yang terkesan saling bertentangan satu sama lain.
Dalam al-Qur’an surat Al-Maidah: 48, disebutkan bahwa Qur’an dijadikan sebagai juru bicara (an-Naatiq) terkait keabsahan segala sumber-sumber agama terdahulu. Pada level ini, Qur’an masih mengakui eksistensi kebenaran kitab-kitab dan ajaran agama terdahulu. Dalam pandangan saya, ada prinsip kontinuitas wahyu. Substansi dari ajaran-ajaran nabi adalah sama. Sebagian mufasir mengakui eksistensi dan esensi yang sama. Selanjutnya, al-Qur’an diartikan sebagai penjaga (muhaimin), sebagai batu ujian. Sebagai kitab yang menegakkan ajaran kitab-kitab yang terdahulu.
Kesatuan agama-agama itu digambarkan oleh Nabi, bahwa risalah itu seperti bangunan yang besar. Ketika bangunan itu ada batu bata yang lowong, maka di situ saya –Muhammad- akan menempati batu bata yang kosong tersebut. Nabi hanya menempati salah satu pojok dari sebuah bangunan yang besar, agama-agama besar. Nabi sendiri mengakui bahwa satu kesatuan (tri unity of religion) yang tidak dapat dipisahkan.
Di sisi lain, al-Qur’an menelorkan ayat, la Iqroha fi diin. Tidak ada paksaan dalam beragama. Kaidah bayani, al-Husaid mempunyai 2 orang anak-anak tersebut ingin masuk Kristen. Kemudian dia lapor kepada nabi, bolehkah saya memaksa anak saya masuk Islam? Kemudian turunlah ayat tersebut. Perspektif al-Qur’an terhadap agama-agama itu sangat respek terhadap agama yang lain. Kata nabi silahkan saja kamu tidak mempunyai hak untuk melarangnya.
Menurut Arja’, Al-Qur’an tidak begitu saja menerima konsep-konsep masa lalu. Al-Qur’an juga memberikan kritik-kritik tradisi agama terdahulu yang diselewengkan. Kritik-kritik al-Quran itu hanya pada level ketidaksetujuannya saja, tidak sampai pada upaya pemberangusan tradisi agama-agama terdahulu. “Al-Qur’an mengajak kita agar tidak mencaci-maki Tuhan orang lain. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak memulai menganggap buruk atau menjelek-jelekan agama yang lain,” tandas doktor tafsir jebolan UIN Jakarta ini, (J) Ulfi