MARI, BELAJAR JURNALISME ILMIAH!

0
135

Ada catatan cukup menarik ketika Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang menggelar acara pelatihan menulis kreatif berbasis penelitian. Pelatihan tersebut mendatangkan nara sumber, yakni DR. Ahwan Fanani, MA, peneliti terbaik IAIN Walisongo Semarang tahun 2011. Meski kegiatan terkesan hanya menyedot sedikit animo peserta, efek samping dari hasil kegiatan itu terasa pantas untuk untuk diketahui khalayak umum.
Para mahasiswa umumnya tertarik untuk mempelajari metode penelitian ilmiah dengan kerangka jurnalistik. Kerangka penelitian yang dianggap ‘kaku’ bisa disederhanakan dengan bahasa-bahasa jurnalistik yang mengandung nuansa populer. M. Aqil Wira Aji, salah satu mahasiswa tingkat akhir mengakui bahwa dirinya merasa terbantu dengan adanya pelatihan penelitian tersebut.
Aqil yang sudah sering melakukan penelitian pada kajian sosial keagamaan mengaku banyak mendapat pengalaman terkait bagaimana cara menyusun naskah ilmiah disertai dengan unsur naskah populer. “Saya merasa bahwa biasanya pola penulisan dalam penelitian ilmiah bersifat kaku dan formal. Akan tetapi, lewat adanya kerangka penelitian berbasis jurnalisme ini, ternyata ada penelitian yang menghasilkan kemasan yang enak dibaca tanpa mengesampingkan substansi dari penelitian ilmiah,” tuturnya.
Sementara itu, Ahwan Fanani sangat mengapresiasi ketika ada tulisan ilmiah yang renyah dibaca. Untuk bisa menulis penelitian dengan jenis tersebut, kita dituntut untuk membaca jenis penelitian berbasis antropologi untuk kemudian dibuat rujukan. Penelitian berbasis antropologi menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah yang disajikan dengan kemasan ringan dengan memuat fakta-fakta sosial masyarakat. Selama ini banyak peneliti yang melakukan penelitian baik ilmu eksak, sosial memfokuskan diri pada kajian ilmiah dan dituliskan dengan pola tulisan-tulisan ilmiah, di mana bagi sebagian orang sangat sukar untuk difahami. Untuk itu, perlu tampilan lebih untuk menciptakan kemasan penelitian yang renyah dibaca.

Bagaimana memulainya?
Ahwan Fanani mengikhwalkan, bahwa setiap mahasiswa bisa menulis dengan pola penelitian kreatif tersebut. Ia memberi isyarat bahwa kita dituntut belajar mendiagnosa masalah dari hal-hal yang bersifat sederhana. “Mulailah penelitian dari hal-hal yang sederhana. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan bisa diteliti,” ujarnya.
Bagi peneliti, semua hal yang berkaitan dengan kehidupan bisa jadikan sebuah masalah penelitian. Semua itu bisa menjadi proposal penelitian dan menghasilkan manfaat bagi banyak orang. Untuk bisa mencapai itu, pertama kita bisa membaca kajian teori-teori sosial dan filsafat. Penguasaan pada aspek kajian itu akan menambah daya analisis masalah secara lebih cermat dan teratur.
Berbeda dengan Aqil, Anis Fitria mahasiswi jurusan Ekonomi Islam IAIN Walisongo berpendapat bahwa melakukan sebuah penelitian terasa sangat sulit. Apalagi ada jenis penelitian yang berbasis lapangan (kuantitatif) dan jenis kajian (kualitatif) yang semuanya menuntut konsentrasi lebih. “Penelitian yang biasa saja sangat sulit apalagi penelitian dengan tulisan yang enak dibaca,” pintanya. Umumnya, bagi mereka yang tidak terbiasa melakukan penelitian akan merasa kesulitan dalam mengawali sebuah penelitian. Maka, mulai membiasakan diri terhadap kerja penelitian menjadi penting untuk dilakukan secara rutin dan berkala.
Ahwan menambahkan, yang perlu dihadirkan dalam penelitian adalah data, fakta dan interpretasi. Ketiga modal itu wajib ada dalam penelitian. Ketika sudah ada data dan fakta dalam suatu permasalahan yang diteliti, kemudian diinterpretasikan. Kalau ingin melakukan penelitian secara aman, pola interpretasi dielaborasikan dengan kerangka pendapat umum dan prasangka (prejudice). Peneliti harus mampu menggali data sebanyak-banyaknya yang berbasiskan kenyataan sosial yang ada. Kemudian, ditafsirkan dengan pendekatan teori yang digunakan.
Sementara itu, Nurul Huda aktivis Justisia menuturkan pelatihan penulisan ini sengaja dihadirkan karena melihat perkembangan penelitian selama ini yang tidak ‘cepat’ berkembang. Padahal studi keilmuan terus berkembangan seraya dengan perkembangan zaman. “Mudah-mudahan penelitian ini menjadi awal dalam menulis penelitian,” harapnya.
Dengan demikian, dunia penelitian tidak lagi dicap sebagai dunia ilmiah dan formal semata. Melainkan ada kemasan lain yang bisa dimunculkan, agar suatu penelitian bisa diterima semua kalangan. Ayo, belajar penelitian kreatif.[nazar]

wadyabala justisia