BUKU DAN CAKRAWALA PENGETAHUAN

0
112

Dua tahun lalu, George Junus Aditjondro memanaskan perpolitikan nasional lewat karyanya dalam bentuk sebuah buku fenomenal. Aditjondro begitu ia disapa, menyalurkan hasrat tulis menulis yang diberi judul Membongkar Gurita Cikeas; Skandal dibalik Century. Pria yang berjenggot tebal ini mencoba mengungkapkan curahan hatinya atas makin maraknya praktik korupsi di lingkungan penguasa.
Terlepas dari isi buku tersebut yang menuai banyak kritikan pedas, gairah tulis menulis di kalangan masyarakat menemukan irama baru dalam mendemokrasikan karya seseorang. Grafik peningkatan secara signifikan pun dapat dilihat. Terbukti, pasca buku Aditjondro digulirkan ke khalayak umum, buku bernalar pembalasan siap diluncurkan. Buku berjudul Hanya Fitnah & Mencari Sensasi dan Cikeas Menjawab! pun muncul ke permukaan menjawab karya Aditjondro.
Dari sini dapat sedikit diperoleh pencerahan terkait pentingnya kemerdekaan berbicara dan berpendapat sesuai amanat UUD 1945. Tidak ada pembredelan pers dan pemberangusan karya seseorang.
Buku harus dibalas dengan buku, bukan dengan pemberangusan. Tanpa buku pembanding yang cergas dan cerdas, pemahaman masyarakat melalui jalur buku hanya sepihak. Dalam artian mempertahankan argumen dari pengetahuan yang diperolehnya dari sebutir buku, (Jawa Pos, 17/01/10).
Dengan demikian, hikmah pendemokrasian buku yang tertuang lewat ‘debat media’ menjadi kunci terbaik bagi kelangsungan dunia jurnalistik. Roda pengetahuan sepihak dapat diminimalisir dengan buku-buku tandingan. Hasilnya, persaingan sehat nan aktif dalam kajian tulis menulis akan semakin tinggi. Dan secara implisit, roda estafet pengetahuan akan mendongkrak tinggi dengan sendirinya.
Buku dan Pengetahuan
Berbicara masalah buku, maka tidak lepas dari sudut pandang subjek dan objeknya. Subjek dalam hal ini adalah seorang penulis ataupun pengarang akan karya. Seseorang yang sedang menuangkan hasil ijtihad pikirannya dalam bentuk karya apapun akan menghasilkan sebuah ‘peradaban’. Entah itu peradaban buku, pers ataupun lainnya. Karena pengetahuan yang tersalurkan lewat karya akan menjadi pengetahuan yang hidup.
Hal ini akan menjadi mungkin manakala dari sudut objek atau masyarakat memaknai dan menganalisis apa yang ada didalamnya. Dan akan mudah terwujud jika segenap elemen masyarakat menyadari akan pentingnya sebuah buku.
Ukuran pentingnya sebuah pengetahuan tidaklah dipandang dari segi mewahnya karya seseorang. Meski banyak karya hanya berupa timbunan kertas yang amburadul, namun esensinya butir-butir elemen pengetahuan digunakan dalam landasan berfikir. Akan lebih baik jika suatu karya disajikan dalam bentuk yang ringan dan enak dikonsumsi khalayak ramai.
Buku dan pengetahuan adalah satu kesatuan. Patron client keduanya mampu menembus urat nadi pengetahuan yang ada. Pengetahuan pada umumnya dapat diperoleh lewat pengkajian secara serius kepada buku. Sebaliknya, buku mempunyai inovasi untuk memuat pengetahuan-pengetahuan baru yang masih tersembunyi. Antara keduanya terjadi ‘kesesuaian organik’ yang mencoba membuka wahana baru di jagad ilmu pengetahuan.
Seorang pustakawan harus jeli memilah serta memilih model pengetahuan apa yang ‘klop’ bagi dirinya. Seseorang akan terpengaruh baik ataupun buruk dari pesona keilmuan dalam sebuah buku. Alih-alih mengharap ilmu yang mumpuni, seseorang juga dapat terjebak pada pemahaman literalistic (hanya berpatokan pada buku). Model pemahaman ini akan sendirinya berinfiltrasi pada congkaknya nalar berfikir. Model ini pula yang nantinya bertendensi pada pemikiran yang radikal terhadap konteks dimana ia berada.
Pemahaman literal Vs kontekstual
Telaah seseorang terhadap buku pada akhirnya mendapatkan semacam cakrawala baru dalam hal pengetahuan. Pembaca secara umum menghabiskan segenap waktunya untuk membaca suatu karya. Dan pada ujungnya, pembacaan terhadap buku mengerucut menjadi dua model pengetahuan yang cukup berseberangan. Ya, Pemahaman literalistic dan pemahaman kontekstual (berdasarkan kondisi dimana pembaca itu berada).
Diantara dua model pengetahuan tersebut terbersit efek positif-negatif masing-masing. Pemahaman literal menghadirkan suatu pencerahan berfikir dan atau sebaliknya ‘mencupetkan’ nalar berfikir karena terkungkung pada buku. Sedangkan pemahaman kontekstual mendatangkan efek kausalitas yang saling berkaitan. Atau dalam bahasa jawa, mempunyai efek rumongso terhadap kondisi sekitar dimana ia berada.
Ketika terjadi suatu permasalahan pada soal agama misalnya, kita tak harus menggunakan modul pengetahuan yang ada dalam buku. Bisa jadi teori itu hanya berupaya mengikis suatu problematika pada tataran kulit, bukan pada inti masalah. Bahasa ‘manis di lidah hampar didalamnya’ mungkin menjadi bagian dari konsekuensi logis pemahaman ini. Lihat misalnya kasus fatwa reboding, tukang ojek perempuan ataupun  fatwa lainnya yang cukup konservatif untuk ukuran masyarakat Indonesia.
Sedangkan pemahaman non literalistic bertumpu pada upaya untuk menyelesaikan suatu masalah di lapangan. Pada tataran ini, pemahaman kontekstual mencoba menguraikan benang permasalahan sesuai setting sosio-kultur dimana masyarakat itu berada dan mengalami suatu permasalahan. Pemahaman ini agaknya lebih rumit dibandingkan pemahaman literal. Tetapi, antara keduanya mempunyai identitas keunggulan masing-masing.
Nah, dari kedua opsi pemahaman di atas juga mempunyai problematika yang urung terpecahkan. Sehingga dalam hal ini masih diperlukan kritik serta masukan guna menyumbat lubang kelemahan kedua model itu. Tentu hal ini dimaksudkan agar kesempurnaan teori menjadi sinkron dengan konteks sekarang.
Atau mungkin, perpaduan diantara dua model tersebut menjadi teori baru untuk solusi permasalahan yang kerap kali muncul. Istilah literal-kontekstual acap kali menjadi hal baru untuk mengetengahi kasus yang ada di masyarakat.
Pemahaman literal atau konseptual dipadukan dengan pemahaman kontekstual akan menghasilkan teori baru yang lebih praktis dan elegan. Sampai pada akhirnya, model ini menjadi solusi konkret apabila kedua opsi pemahaman di atas menuai jalan buntu. Jangan sampai, kita malah terbelenggu dalam kubangan literal atau juga konseptual, apalagi berupaya bersikap ‘taklid buta’.
Akhirnya, kebenaran pengetahuan di dunia ini hanya bersifat relatif. Bisa lebih baik jika pengetahuan dimaknai dan disuguhi dengan data ilmiah yang tentunya menuntut tanggung jawab seseorang.  Selamat mendemokrasikan buku! (Nazar)

*) Dimuat di Majalah Perpus Wilayah Jawa Tengah di rubric Opini