Kajian Perdana Sosiologi Wadyabala Justisia Ramaikan Halaman Laboratorium Syariah

0
172

SEMARANG, JUSTISIA.com – Sekitar 11 orang anggota Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia tengah berdiskusi yang merupakan agenda rutin bagi wadyabala (sapaan akrab anggota justisia), di halaman laboratorium Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, Selasa (26/6). Diskusi kali ini berada dalam lingkup agenda sosiology studies dengan pembahasan “masyarakat sebagai struktur aturan dan struktur ketidaksetaraan.”

Diskusi ini berlangsung antusias, hal ini terlihat dengan adanya saling adu argumen peserta diskusi. Sebelumnya semua peserta telah menyiapkan bahan-bahan yang akan didiskusikan, sehingga tampak semua peserta diskusi telah menguasai materi. “Sebelum diskusi kita diwajibkan untuk membaca dan mencari referensi sebanyak mungkin, agar diskusi dapat berjalan baik,” tutur koordinator wadyabala 2011, Lutfi.

Lebih lanjut, direktur Lembaga Studi Justisia, Lismanto, setelah memberi kesimpulan diskusi, mewajibkan kepada seluruh wadyabala untuk meningkatkan kualitas membaca dan menulis, dan ini adalah harga mati.”

Nurul Izza sebagai presentator dalam diskusi tersebut menjelaskan bahwa masyarakat adalah organisme yang berdiri sendiri lepas dari kemauan dan tanggung jawab anggotanya, dan di bawah kuasa hukum. Tak hanya itu, Izza menegaskan yang menjadi struktur dasar dari ketidaksetaraan dalam masyarakat, khususnya masyarakat kapitalis adalah adanya a triad of actors: negara, golongan elite dan para pekerja.

Menurut Firdaus, secara sederhana status sosial itu dibagi menjadi tiga, yakni ascribed status, achieved status dan assigned status. Alif menegaskan, ascribed status itu bisa dilihat dalam sistem kasta yang ada dalam agama Hindu. “Sistem kasta ini muncul dari leluhur mereka,” katanya.

Lain halnya dengan Piul, ia agak kurang setuju jika sistem kasta dikatakan berasal dari leluhur mereka (red: orang Hindu). “Kasta itu merupakan hasil interaksi dari satu orang dengan yang lain sehingga menimbulkan kasta,” bantah Piul membabi buta.

Tidak puas dengan apa yang telah dipaparkan oleh peserta diskusi , akhirnya memutuskan untuk bertanya “sang pencerah”, julukan yang biasa disematkan kepada Lismanto. Pemimpin umum LPM Justisia, Nazar Nurdin, turut memeriahkan suasana diskusi rutin ini. (Firdaus)